Pendidikan : Dari dan Untuk Hidup

Ketika mendengar kata ‘pendidikan’, langsung terbesit segala hal tentang sekolah, mulai dari jenjang Taman Kanak – Kanak hingga perguruan tinggi. Padahal pendidikan sendiri memiliki makna yang lebih luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan merupakan sebuah proses pembelajaran bagi tiap individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek tertentu dan spesifik, dimana pengetahuan tersebut akan membentuk pola pikir, perilaku, dan akhlak dari individu tersebut. Sedangkan menurut Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang memiliki arti bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Pendidikan dapat ditempuh secara formal, non formal, dan informal yang disebut sebagai jalur pendidikan. Tercatat sebagai peserta didik dalam jalur yang runtut, jelas, dan adanya aturan serta persyaratan dari suatu lembaga/institusi merupakan pendidikan formal. Pendidikan non formal merupakan jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang ditempuh atas dasar kemauan sendiri, seperti pendidikan anak usia dini, organisasi, kursus, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, dsb. Sedangkan pendidikan informal merupakan jalur pendidikan secara mandiri yang diperoleh dari berbagai hal yang ditemui sehari-hari, yaitu keluarga dan lingkungan.

Seperti yang telah kita ketahui, setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Penetapan tersebut merupakan penghargaan kepada Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman kolonial. Ki Hadjar Dewantara yang memiliki nama asli R. M. Soewardi Soerjaningrat dilahirkan dari keluarga bangsawan di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Pada masa itu, hanya anak-anak kelahiran Belanda dan kaum priyayi saja yang dapat mengenyam bangku pendidikan sehingga Ki Hadjar Dewantara termasuk golongan yang beruntung sehingga dapat mencicipi bangku pendidikan. Setelah lulus sekolah dasar, Beliau mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Namun dikarenakan sakit yang dideritanya, Beliau tidak dapat menamatkan sekolah tersebut. Bagi Ki Hadjar Dewantara, sakit bukanlah penghalang untuk tetap mengembangkan dirinya. Beliau kemudian bekerja menjadi wartawan di beberapa media surat kabar. Melalui pekerjaan tersebut, Beliau mengkritik pemerintahan Belanda dan berakibat terjadinya penangkapan dan pengasingan Beliau ke Belanda bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Melalui pengasingan tersebut, Ki Hadjar Dewantara mulai memiliki tekad untuk memajukan kaum pribumi dan sekembalinya Beliau ke Indonesia, Beliau mendirikan sekolah bagi pribumi yang kita kenal dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara terkenal dengan semboyan ‘Laku Telu’, yaitu Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini, Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pidatonya memberitahukan bahwa tema Hardiknas 2017 adalah ”Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas”. Setiap warga Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, tua dan muda, kaya dan miskin, sehat dan sakit, memiliki hak yang sama untuk mengenyam bangku pendidikan. Masa depan Indonesia ditentukan oleh generasi muda masa kini yang memiliki karakter atau budi pekerti yang kuat serta menguasai berbagai bidang keterampilan hidup, vokasi, dan profesi abad 21 yang berdaya kompetisi tinggi. Maka dari itu, kita sebagai generasi muda berstatus mahasiswa, perlu memahami makna pendidikan yang sebenarnya. Mengikuti pendidikan formal dengan hanya datang ke kampus setiap hari dan mendengar ceramah dosen sangatlah tidak cukup untuk dapat menjadi pribadi berkarakter kuat dan memiliki berbagai keterampilan dengan daya kompetisi tinggi. Diperlukan kombinasi yang sinergis dari pendidikan non formal dan informal. Bagi mahasiswa, pendidikan non formal dan informal dapat diperoleh melalui hal yang sederhana, seperti berkontribusi dalam kegiatan – kegiatan kampus, baik unit kegiatan mahasiswa, himpunan, organisasi yang bergerak dalam bidang tertentu maupun kepanitiaan, dapat mendidik kita untuk membentuk pola pikir beserta perilaku yang diperlukan oleh diri sendiri dan juga masyarakat. Sehingga kita tidak hanya baik secara akademis saja, melainkan juga secara pola pikir dan perilaku.

Masih banyak hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk memajukan pendidikan di negara ini. Namun hal terpenting yang harus diingat adalah pendidikan bukan hanya tentang sekolah, pendidikan merupakan pembelajaran dari kejadian sehari-hari, baik hal sederhana maupun kompleks, yang akan mendidik dan membentuk karakter seseorang. Pendidikan tidak pernah terbatasi usia. Maka, jangan pernah kenyang dengan ilmu dan berhenti untuk mengembangkan potensi diri agar dapat mencapai pribadi berkualitas yang dapat membantu terwujudnya pendidikan berkualitas di Indonesia.

 

 

Sumber:

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/04/pidato-mendikbud-pada-upacara-hari-pendidikan-nasional-2-mei-2017
http://www.biografiku.com/2009/02/biografi-ki-hajar-dewantara.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/mengenang-kembali-sejarah-hari-pendidikan-nasional-di-indonesia

 

Disusun oleh :
Annissa Meilani – Staf PRP IAAS LC UNPAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *